<Sementara dalam versi singkat>
Season 67 :
Musim ini adalah musim pertama saya bermain game ini. Di musim awal ini saya langsung mengingat satu lawan tangguh bernama MDN FC. Tim ini sangat superior di departemen saya saat itu, 4/5 Liga Indonesia, di mana tim tersebut tidak pernah kalah sekalipun sampai akhir musim. Waktu saya berada di departemen tersebut, liga hampir memasuki putaran kedua (saya lupa persisnya, tp sekitar 15-20 laga sisa), di mana saya harus berhadapan dengan MDN FC sebanyak 2x. Di pertemuan pertama saya hanya kalah tipis, tetapi di pertemuan kedua tim saya kalah telak 0-4 dan hingga kini rekor tersebut masih terukir di team details saya. Tanpa bermaksud meremehkan manager lainnya saat itu, saya mempunyai target awal di game ini, yaitu mengalahkan MDN FC suatu saat nanti.
Awal musim ini berakhir dengan cukup lumayan, naik 4 posisi dari posisi awal saya tiba, dari posisi 10 naik menjadi posisi 6. Saat itu saya hanya memaksimalkan skuad saya dengan Best Eleven hanya Q68, di mana tim lain di departemen saya memiliki Q70 ke atas.
Di musim ini juga saya mengajak teman sekota saya bermain game ini, tim dia bernama FC Hellbourne. Bertanding beberapa kali dalam friendly, ternyata tim saya belum mampu mengimbanginya. Tapi tidak apa, di musim pertama ini memang saya manfaatkan untuk belajar dan mempelajari Manager League secara lebih mendalam. Perlahan tapi pasti, di akhir musim tim saya sudah berhasil mencuri beberapa kemenangan saat pertandingan persahabatan.
Pencapaian paling hebat di musim ini justru terjadi ketika akan terjadi pergantian musim, di mana pada End Season Cup Q68, tim saya berhasil mencapai Round 7, atau setara dengan perempat final (total tim 1024).
Season 68 :
Coming soon.
Season 69 :
Coming soon.
Season 70 :
Coming soon.
Season 71 :
Coming soon.
Season 72 :
Coming soon.
Season 73 :
Coming soon.
Season 74 :
Musim pertama saya di divisi 2/1. Saat itu agak keder juga melihat tim-tim yang bercokol di sini. Tim-tim elite dan juga beberapa mantan divisi 1 berkumpul di sini, seperti Tampan FC, ZHAMBEE, Padang FC, HolySaint, Ponorogo FC, dll. Di samping itu juga terdapat teman-teman rookie saya, seperti Naga Burileng, Kuyagaya FC, dan Persiju Sijunjung yang terkenal hebat, terutama Naga Burileng. Melihat tim-tim dengan Q80 ke atas semua (kecuali saya, Naga Burileng, dan Kuyagaya FC), saya berpikir, bagaimana cara untuk bisa mengimbangi mereka karena setidaknya saya ingin mencapai posisi 6 besar. Mungkin ini suatu target yang terlalu "wah" karena Q awal tim saya saat berada di sini hanyalah Q79,00.
Akhirnya saya pun memutuskan untuk menambah amunisi di dua posisi penting, kiper dan bek, karena di posisi tersebut saat itu belum ada pemain saya yang mencapai Q80. Tetapi, mengingat kas keuangan tim saya yang selalu pas-pas an setiap musimnya, saya pun memilih sponsor dulu untuk menambah dana, karena tidak mungkin dengan dana hanya sekitar 8m pada awal musim, saya membeli 2 pemain dengan Q80 ke atas, walaupun itu hanyalah pemain tua.
Sempat terpikir oleh saya untuk memilih Imageware, sponsor kesukaan saya, tetapi karena saya sadar bahwa masih newbie di departemen ini (apalagi pernah gagal mendapatkan bonus karena di season 72 kalah di laga terakhir dan hanya finish di posisi 2), akhirnya yang paling reaslistis adalah memilih Euro Eleven, dengan target saya adalah mencapai posisi 3 besar di akhir musim. Dengan uang muka 6m dari Euro Eleven, total uang saya saat itu bertambah menjadi 14m. Target saya naikkan menjadi 3 besar karena pembelian 2 pemain ini nanti saya perkirakan sudah cukup untuk menambah kekuatan tim saya, karena saya sendirilah yang akan menyeleksi 2 pemain yang akan direkrut nantinya.
Scouting saya lakukan dengan melihat track record pemain satu persatu dan juga tim tempat pemain tersebut berada, serta beberapa faktor lainnya. Akhirnya setelah menyeleksi setelah beberapa hari, pilihan saya jatuhkan kepada Braulio Saveedra dan Eeli Valkonen.
Liga pun akhirnya mulai bergulir. Di beberapa ronde awal, walaupun kedua pemain baru tersebut belum menunjukkan permainan terbaiknya karena belum padu dengan anggota tim lainnya, tetapi secara mengejutkan tim ini konsisten berada di posisi 5 besar, bahkan lebih sering di 3 besar. Tetapi, di pertengahan laga ada sebuah kesalahan besar yang saya lakukan, yaitu memasang skuad cadangan saat menghadapi Inter d Narto. Hasilnya memang lumayan, hanya kalah 1-2, tetapi cukup mempengaruhi posisi klasemen karena kehilangan 3 poin. Tapi tak apa, semua itu ada hikmahnya, dan saya rasakan itu nanti di akhir musim. Kekalahan pertama yang terjadi di musim ini (dengan pemain inti), terjadi ketika melawan Tampan FC. Bermain di Naga Angker, ternyata tim saya dipecundangi 1-3. Saat itu pun saya langsung mengetahui bahwa Tampan FC akan menjadi tim best recovery di putaran kedua nanti, karena di putaran pertama, tim tersebut agak terseok-seok, bahkan sempat menghuni zona playoff degradasi.
Dugaan saya benar, bahkan tidak hanya Tampan FC saja yang mulai bangkit, tetapi juga Padang FC, Ponorogo FC, HolySaint, dan tim-tim elite lain mulai menunjukkan taringnya di putaran kedua ini. Persaingan departemen ini pun semakin ketat, karena ini memang departemen neraka, tidak seperti departemen lainnya di divisi 2 yang perbedaan kuaitasnya agak berat sebelah, di departemen ini kekuatan sangat berimbang. Untungnya, walaupun di putaran kedua ini mulai sering menderita kekalahan, tetapi masih stabil di posisi 4 besar. Tim saya, IE 06 UNJA, dan ZHAMBEE yang sejak akhir putaran pertama bersaing di 3 besar mulai naik turun posisi. Tampan FC yang di awal putaran kedua berada di posisi 10 (kalau tidak salah), secara konsisten menambah jumlah kemenangannya.
Akhirnya tiba juga saat tim saya bertandang ke kandang Tampan FC. Bermodalkan semangat revans, saya tidak silau dengan runtutan kemenangan Tampan FC saat itu. Tim saya pun berhasil membalas kekalahan di kandang sendiri dengan skor 2-1, yang saya ingat salah satu golnya dicetak oleh Andreas Rosalim.
Di pertandingan terakhir, tim saya yang mempunyai poin sama dengan Tampan FC, tetapi memiliki perbedaan agregat gol yang cukup banyak, dengan sadar diri hanya bermain sekuatnya di pertandingan terakhir melawan Padang FC. Karena di pertandingan terakhir Tampan FC melawan QUENS ANGEL sudah saya ketahui bahwa Tampan FC akan memenangi pertandingan, karena di laga sebelumnya QUENS ANGEL bermain kurang semangat dan kalah 0-3 melawan Naga Burileng.
Kelelahan setelah memenangkan KCL S74, membuat laga terakhir tim saya menjadi rekor kekalahan terbesar musim ini. Tim saya digulung 0-4 oleh Padang FC. Di saat yang lain Tampan FC juga berhasil meraih poin penuh dengan kemenangan cukup telak.
Posisi klasemen akhir pun menempatkan Tampan FC di posisi pertama dengan poin 59, diikuti Padang FC di posisi kedua dan tim saya di posisi ketiga dengan raihan poin sama 56. Tetapi entah mengapa saya cukup senang karena tidak jadi promosi di divisi 1, karena memang rasa merasa belum cukup umur untuk berada di sana. Pada playoff pertama pun akhirnya dibantai lagi 0-4 oleh ZHAMBEE, dan berakhir pula pertandingan saya di liga musim ini.
Season 75 :
Departemen neraka ini kembali menghadirkan pendatang-pendatang baru yang cukup merepotkan, sebut saja PSGM Ketapang, Semen Padang 1910, TATHAGATHA, Celection FC, Arsenal2010, dan Jagobola FC. Di antara tim-tim tersebut, tim pertama yang ingin saya kalahkan adalah Jagobola FC, mengingat dulu di season 72, tim tersebut berhasil men-"double" tim saya.
Sepertinya musim ini akan kembali menjadikan departemen ini menjadi departemen terketat di divisi 2. Musim lalu, jarak posisi 1-7 hanya terpaut 7 poin saja. Target musim ini pun belum saya tentukan karena kekuatan tim di departemen ini yang sangat merata. Mungkin setelah beberapa pertandingan baru akan saya putuskan.
Walaupun merasakan kekalahan di laga perdana di kandang sendiri oleh IE UNJA 06, tetapi di delapan laga setelahnya tim ini belum terkalahkan. Sayangnya di akhir pekan ini dihadapkan kepada dua pilihan sulit, karena akan mengikuti dua cup (INDONESIA CUP dan Kaskus Round 1) di mana di kedua cup tersebut berpotensi untuk meraih paling tidak runner up. Saya putuskan untuk lebih fokus di INDONESIA CUP, karena di KCL musim kemarin sudah pernah menjadi juara. Walaupun begitu saya tetap menyimpan asa untuk lolos ke putaran final KCL.
Di INDONESIA CUP kami berhasil meraih posisi runner up, walaupun sebenarnya hasil ini cukup mengecewakan, mengingat sudah unggul terlebih dahulu sebelum akhirnya disamakan sampai akhirnya berakhir di babak pinalti. Di babak pinalti pun sebenarnya sudah start dengan bagus hingga unggul 5-3, namun hasil berkata lain. 5-6. Di cup ini yang paling berkesan adalah saat mengalahkan Semarang FC dengan tembakan bebas Alexander Ilyin di menit-menit awal. Kalah tidak salah gol ke-3 melalui tendangan bebas sepanjang tim saya bermain. Tetapi untung juga bolanya masuk, kalau tidak biasanya tendangan bebas Alexander Ilyin mengakibatkan kiper lawan cidera, atau setidaknya mengurangi fit cukup banyak.
Kini fokus saya beralih ke KR1. Saya yakin masih ada peluang 50% untuk lolos ke KCL kalau mendapatkan WO di babak pertama, karena fit pemain yang tersisa hanya cukup untuk menghadapi satu lawan tangguh saja, mengingat di INDONESIA CUP sudah mencapai babak akhir yang tentunya mengakibatkan kelelahan pada pemain. Sayang sekali, dewi fortuna kembali tidak berpihak ke kami. Walaupun menang 3-2 atas Sriwijaya FC di babak pertama, akhirnya kalah 2-1 oleh Star Museum FC di babak kedua. Padahal itu sudah memaksakan Braulio Saveedra, sang kiper andalan yang sudah under fit, yang sedang dipersiapkan untuk menghadapai capolista Divisi 2/1, ZHAMBEE, besok pagi untuk tampil. Berhasilkan mission impossible untuk mengalahkan ZHAMBEE yang sedang on fire musim ini dilakukan ?
Discontinued..